PBB Prihatin atas Pelanggaran HAM Berat di Sudan
Situasi di Sudan dok.thenational
WASHINGTON — Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres pada Kamis (13/11/2025) menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan kekejaman massal dan pelanggaran hak asasi manusia berat di El-Fasher, Sudan.
Guterres menyerukan penghentian segera permusuhan di Sudan. Hal ini seiring meningkatnya pertempuran antara Angkatan Bersenjata Sudan dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF).
“Aliran senjata dan pejuang dari pihak eksternal harus dihentikan,” kata dia.
Ia menekankan bahwa bantuan kemanusiaan harus diizinkan. Hal ini dilakukan untuk segera menjangkau warga sipil yang membutuhkan.
Guterres mendesak kedua belah pihak untuk mengambil langkah cepat dan nyata menuju penyelesaian yang dinegosiasikan. Hal ini dilakukan guna mencegah memburuknya situasi lebih lanjut.
Menurut organisasi lokal dan internasional, pada 26 Oktober, RSF merebut kendali El-Fasher, ibu kota Negara Bagian Darfur Utara, dan melakukan pembantaian.
Setelah RSF merebut El-Fasher, bentrokan antara kelompok pemberontak dan tentara Sudan menyebar ke front baru. Ini terutama di negara bagian Kordofan bagian tengah dan selatan.
