Senator Australia pakai Burka di Parlemen
Senator Australia dianggap rasisme karena kenakan burka sebagai bentuk protes dok.thenational
CANBERRA — Seorang senator sayap kanan Australia, Pauline Hanson (71 tahun) dituduh melakukan rasisme setelah mengenakan burka di parlemen pada Senin (24/11/2025).
Hanson mengenakan burka, usai ia ditolak izinnya untuk mengajukan rancangan undang-undang yang akan melarang burka dan penutup wajah penuh lainnya di tempat umum. Ini merupakan kedua kalinya ia mengenakan burka di parlemen dalam upaya untuk memberlakukan larangan tersebut.
Senat meluapkan amarah ketika Hanson memasuki ruang sidang dengan mengenakan burka. Sidang dihentikan karena ia menolak melepasnya.
“Jadi, jika Parlemen tidak melarangnya, saya akan memamerkan penutup kepala yang represif, radikal, dan non-religius ini yang membahayakan keamanan nasional kita dan perlakuan buruk terhadap perempuan di ruang sidang parlemen kita agar setiap warga Australia tahu apa yang dipertaruhkan,” kata Hanson, melansir The National.
“Jika mereka tidak ingin saya memakainya, laranglah burka,” lanjutnya.
Senator Muslim turut mengomentari cara berpakaian Hanson. Ia menyebut sebagai rasisme secara terang-terangan.
“Ini senator rasis, yang menunjukkan rasisme terang-terangan,” kata senator Muslim dari New South Wales, Mehreen Faruqi.
Senator independen dari negara bagian Australia Barat, Fatima Payman menyebut aksi tersebut memalukan.
Baik pemimpin pemerintahan Partai Buruh sayap kiri-tengah Australia di Senat, Penny Wong, maupun wakil pemimpin Senat untuk koalisi oposisi, Anne Ruston mengecam tindakan Hanson.
Wong menyebut mereka tidak layak menjadi anggota Senat Australia, dan mengajukan mosi untuk menskors Hanson karena tidak melepas pakaian tersebut. Setelah ia menolak untuk pergi, sidang Senat pun ditangguhkan.
