16 Januari 2026
thumbs_b_c_60583d3f566413e554db8782609d0fbf

G7 dok.anadoluagency

NIAGARA — Para menteri luar negeri negara-negara G7 pada Rabu (12/11/2025) mengecam keras serangan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) paramiliter Sudan terhadap warga sipil di El-Fasher dan Kordofan Utara.

“Kami dengan tegas mengutuk kekerasan seksual. Kami mendesak Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) untuk menghormati hak asasi manusia, melakukan deeskalasi, berkomitmen pada gencatan senjata segera dan permanen, serta memastikan penyaluran bantuan kemanusiaan yang cepat dan tanpa hambatan,” sebut G7 melalui pernyataan bersama melansir Anadolu Agency.

Hal ini disampaikan setelah pertemuan dua hari di Niagara, Kanada. Pertemuan dilakukan oleh para diplomat tinggi Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat (AS) beserta Perwakilan Tinggi Uni Eropa.

“(Kami menyesalkan) dampak dahsyat perang ini terhadap warga sipil, termasuk kelaparan yang telah menyebabkan krisis kemanusiaan terbesar di dunia,” sebutnya.

Para diplomat menyatakan dukungan mereka terhadap upaya diplomatik yang sedang berlangsung untuk memulihkan perdamaian dan keamanan.

Sementara PBB memperingatkan bahwa situasi di Sudan semakin memburuk bagi warga sipil. Sedangkan kelompok-kelompok bantuan mengindikasikan bahwa akses ke daerah-daerah terdampak masih begitu dibatasi oleh konflik.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, konflik berdarah antara tentara dan RSF dimulai pada April 2023. Konflik ini juga telah menewaskan 40 ribu orang dan menyebabkan sekitar 12 juta orang mengungsi.

Bulan lalu, RSF merebut ibu kota negara bagian Darfur Utara, El-Fasher, dan dituduh melakukan pembantaian. Kelompok ini menguasai kelima negara bagian Darfur dari 18 negara bagian Sudan, sementara tentara menguasai sebagian besar dari 13 negara bagian yang tersisa, termasuk Khartoum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *