Kewajiban Taat pada Ulil Amri
dok.pixabay
— Umat Islam diwajibkan untuk taat pada Ulil amri. Namun apabila penguasa melakukan kesalahan, maka sampaikan dengan cara menyendiri dengannya.
Dikutip dari buku Syarah Aqidah Ahlus sunnah wal jamaah karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Rasulullah ﷺ bersabda,
“Barang siapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Jika penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya” (HR Ibnu Abi Ashim, Ahmad dan al-Hakim).
Jika sudah ada dalil yang shahih, maka waiib bagi seorang Muslim untuk taat kepada Allah dan Rasulullah ﷺ. Hujjah itu terdapat pada hadits Rasulullah yang shahih dan tidak boleh menolak hadits Rasulullah dengan beralasan kepada perkataan ulama atau perbuatan satu kaum atau siapa saja.
Ahlus Sunnah tidak suka dan tidak rela dengan kezhaliman dan kemunkaran yang dilakukan oleh penguasa atau lainnya. Akan tetapi cara mengingkari kemunkaran yang dilakukan oleh penguasa dan cara menasihati penguasa harus sesuai dengan petuniuk Rasulullah ﷺ dan atsar Salafush Shalih.
Menjelek-jelekkan penguasa, membeberkan aibnya, serta menyebutkan kekurangannya, menampakkan kebencian kepadanya di hadapan umum atau melalui media lainnya dan mengadakan provokasi, hal tersebut bukan cara yang benar. Bahkan cara ini menyalahi petunjuk Nabi ﷺ, berdosa karena menyalahi Sunnah, menimbulkan kerusakan dan bahaya yang lebih besar serta tidak ada manfaatnya. Orang yang melakukan hal demikian akan dihinakan Allah pada hari Kiamat.
Rasulullah ﷺ, bersabda:
“Barang siapa yang memuliakan penguasa di dunia, akan dimuliakan Allah di akhirat, dan barang siapa yang menghinakan penguasa di dunia, maka Allah akan hinakan dia pada hari Kiamat” (HR Ahmad).
Imam Ibnu Ashim rahimahullah di dalam kitabnya, As-Sunnah, memberikan bab: “Apa-apa yang diriwayatkan dari Nabi yang memerintahkan untuk memuliakan penguasa dan melarang keras untuk menghinakannya”.
Nabi ﷺ menyuruh umatnya untuk bersabar terhadap kezhaliman penguasa. Dan dengan kesabaran itu Allah akan berikan ganjaran yang besar.
Beliau ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang tidak menyukai sesuatu dari pemimpinnya maka hendaklah ia bersabar terhadapnya. Sebab, tidaklah seorang manusia keluar dari penguasa lalu ia mati di atasnya, melainkan ia mati dengan kematian Jahiliyyah” (HR Muslim).
Ahlus Sunnah wal Jama’ah berpendapat bahwa mentaati pemimpin secara ma’ruf merupakan salah satu dasar utama Aqidah. Dari sini para imam Salaf memasukkannya dalam kitab-kitab Aqidah. Hampir seluruh kitab Aqidah pasti menyebutkan dan menjelaskan tentang wajibnya taat kepada ulil amri. Ketaatan ini termasuk kewajiban syari atas setiap muslim, karena ini merupakan perkara asasi untuk mewujudkan stabilitas keamanan dan ketertiban di dalam negeri kaum Muslimin.
Adapun penamaan Ahlus sunnah sudah ada sejak generasi pertama islam pada kurun waktu yang dimuliakan Allah, yaitu generasi Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in.
Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata ketika menafsirkan firman Allah Azza wa Jalla,
“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu” (Ali Imran ayat 106).
“Adapun orang yang putih wajahnya mereka adalah Ahlus sunnah wal jamaah, adapun orang yang hitam wajahnya mereka adalah Ahlul Bid’ah dan sesat” (Tafsir Ibnu Katsir).
Baca juga: Bersabar atas Kezaliman Pemimpin
